PALOPO – SMA Negeri 6 Palopo atau Smanem Palopo menggelar sosialisasi anti perundungan dan kampanye sekolah ramah anak bertajuk “Generasi Bersuara, Sekolah Tanpa Bahaya”, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap peserta didik.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan SMAN 6 Palopo, Jalan Andi Simpurusiang (eks Jalan Patang II) No. 61, Kelurahan Tomarundung, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo, tersebut dilaksanakan bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB).
Kepala SMAN 6 Palopo, Sumarlin, hadir memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Dalam kegiatan ini, sekolah menegaskan pentingnya menciptakan suasana belajar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik tanpa ancaman perundungan maupun kekerasan.
Sekretaris P3AP2KB Kota Palopo, Mirna Tangkelangi dalam pemaparan materi megatakan bahwa pada kegiatan ini siswa diberikan pemahaman mengenai perundungan atau *bullying*, bentuk-bentuknya, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan di lingkungan sekolah.
"Perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari perundungan fisik, verbal, sosial, hingga digital atau *cyberbullying*. Tindakan tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan sosial dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak sehat," katanya
Karena itu, pencegahan perundungan membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Peserta didik diharapkan berani menolak tindakan perundungan, memberikan dukungan kepada korban, serta melaporkan kejadian yang diketahui kepada guru, wali kelas, atau Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah.
" Korban perundungan tidak boleh disalahkan Setiap laporan perlu ditangani dengan empati, menjaga kerahasiaan, serta memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan yang diperlukan," tambahnya
Selain peran sekolah, upaya perlindungan anak juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah dan lembaga layanan perlindungan perempuan dan anak. Masyarakat sekolah diharapkan tidak menganggap perundungan sebagai hal biasa, melainkan sebagai persoalan serius yang harus dicegah dan ditangani bersama.
Melalui kegiatan bertema “Generasi Bersuara, Sekolah Tanpa Bahaya” ini, SMAN 6 Palopo diharapkan semakin memperkuat komitmen dalam mewujudkan sekolah ramah anak, tempat setiap peserta didik merasa aman, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar serta meraih cita-cita.
Kampanye ini sekaligus menjadi ajakan kepada seluruh warga sekolah untuk berani bersuara, saling menghormati, dan mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan.(ATT)
.jpeg)